BitungSulutkita.com–Ketua TP-PKK Kota Bitung Ny Ellen Honandar-Sondakh mempelopori gerakan masyarakat sadar akan kebersihan lingkungan, dengan program pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos, Senin (25/5/2026).
Hal ini tentunya sebagai bukti nyata dukungan istri Wali Kota Hengky Honandar SE itu terhadap program kerja suaminya. Kegiatan yang dipusatkan di kantor Kelurahan Pinokalan, Kecamatan Ranowulu tersebut turut dihadiri warga dan TP-PKK Kecamatan serta kelurahan.
Program pelatihan yang digagas Tim Penggerak PKK Kota Bitung bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung ini terus menunjukkan dampak positif. Memasuki hari kedelapan pelaksanaan, edukasi lingkungan semakin masif dilakukan hingga menyentuh tingkat kecamatan dan kelurahan.
Dalam kegiatan itu, Ellen Honandar Sondakh tidak hanya memberikan sambutan, tetapi juga turun langsung mempraktikkan cara mencampur bahan kompos menggunakan sekop bersama peserta masyarakat Pinokalan. Kehadirannya mendapat sambutan hangat dari warga yang terlihat antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung, Merianty Dumbela, Kabid PSLB3 Kota Bitung Liberty Rimbing, Plh Camat Ranowulu Vera G. Rompas, Lurah Pinokalan Olfien Melly Sumblang, Ketua Pokja III TP PKK Kota Bitung Tenti Suak Sakul, Anggota Pokja III Rine Wongkar Sigarlaki, serta Ketua PKK Kelurahan Pinokalan Kompol (Purn) Julianus Korompis.
Dalam sambutannya, Ellen menegaskan bahwa pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos merupakan langkah strategis pemerintah bersama PKK untuk menekan volume sampah rumah tangga di Kota Bitung.
“Hari ini merupakan hari kedelapan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos. Program ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama atau MoU antara Dinas Lingkungan Hidup dan Tim Penggerak PKK Kota Bitung, khususnya Pokja III, dalam upaya pengurangan sampah rumah tangga melalui pengolahan limbah organik menjadi kompos,” ujar Ellen.
Ia menjelaskan, sampah rumah tangga terbagi dalam tiga jenis, yakni sampah organik, anorganik, dan B3 atau bahan berbahaya dan beracun. Namun dalam pelatihan tersebut, fokus utama diarahkan pada pengolahan sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, daun kering, hingga limbah dapur yang dapat diolah menjadi pupuk kompos.
Menurut Ellen, persoalan sampah di Kota Bitung menjadi perhatian serius karena volume sampah harian yang mencapai sekitar 100 hingga 120 kubik per hari terus membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Karena itu PKK bersama Dinas Lingkungan Hidup turun langsung ke kelurahan-kelurahan untuk mengedukasi masyarakat bagaimana sampah organik bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ungkapnya.
Dengan gaya santai dan penuh keakraban, Ellen juga mengajak seluruh masyarakat, termasuk kaum pria, untuk ikut terlibat aktif dalam pengelolaan sampah rumah tangga demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Ia pun menekankan bahwa hasil pelatihan tidak boleh berhenti sebatas teori semata. Peserta diminta mempraktikkan langsung pembuatan kompos di rumah masing-masing dan mencoba menggunakannya untuk tanaman seperti cabai maupun tomat agar manfaat pupuk organik dapat dirasakan secara nyata.
“Jangan hanya jadi ilmu sesaat. Setelah pelatihan ini, harus dipraktikkan supaya menjadi kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan,”pungkas Ellen.(fjr/*)







