KotamobaguSulutkita.com–Sebuah pencapaian membanggakan kembali ditorehkan oleh Pemerintah dan masyarakat Kota Kotamobagu di kancah nasional. Tradisi Monuntul, yang merupakan warisan leluhur masyarakat Bolaang Mongondow Raya (BMR), kini resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
Pengakuan sakral ini ditandai dengan penyerahan Sertifikat Penetapan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc, kepada Wakil Wali Kota Kotamobagu, Bpk. Rendy V. Mangkat, S.H., M.H. Prosesi penyerahan tersebut berlangsung di sela-sela agenda peresmian (launching) Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara.
Mengenal Monuntul, sebagai tradisi memasang lampu minyak tradisional (alat penerangan) di depan rumah dan jalan-jalan protokol yang biasanya digelar secara serentak oleh masyarakat Bolaang Mongondow dalam menyambut malam Lailatul Qadar di penghujung bulan suci Ramadan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa sertifikasi ini merupakan bentuk penegasan negara atas kekayaan lokal yang bernilai tinggi. Pemerintah pusat berharap penghargaan ini tidak sekadar menjadi simbol di atas kertas, melainkan pemantik bagi daerah untuk terus menghidupkan tradisi tersebut.
Usai menerima sertifikat, Wakil Wali Kota Kotamobagu, Rendy V. Mangkat, mengungkapkan rasa haru sekaligus bangganya atas apresiasi tertinggi dari Kementerian Kebudayaan ini.
“Momentum ini adalah milik seluruh masyarakat Kotamobagu dan Bolaang Mongondow Raya. Pengakuan ini mempertegas identitas kultural kita di tingkat nasional. Tugas berat kita selanjutnya adalah memastikan api dari tradisi ‘Monuntul’ ini tidak padam dan terus diwariskan ke generasi mendatang,” ujar Rendy.
Dengan masuknya Monuntul ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Kota Kotamobagu kini memiliki daya tawar yang lebih kuat di sektor pariwisata berbasis budaya (cultural tourism).
Pemerintah Kota Kotamobagu ke depan berkomitmen untuk menyusun berbagai program turunan, mulai dari festival tahunan yang lebih representatif hingga muatan lokal di sekolah-sekolah, guna mengedukasi generasi muda mengenai nilai filosofis, sejarah, dan gotong royong yang terkandung di dalam tradisi Monuntul.
Peresmian Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara ini juga diharapkan dapat menjadi wadah strategis untuk mendokumentasikan serta memamerkan linimasa sejarah kebudayaan daerah, termasuk kebudayaan khas dari tanah Totabuan.(BM/*)







