KotamobaguSulutkita.com–Memasuki hari ketiga rangkaian penilaian kinerja aparatur tingkat kelurahan, suasana di Kecamatan Kotamobagu Barat mendadak tegang. Asisten Bidang Pemerintahan Setda Kota Kotamobagu, Sahaya S. Mokoginta, S.STP, memberikan teguran keras kepada peserta yang tidak disiplin saat apel pagi dimulai.
Kegiatan yang diikuti oleh 130 peserta yang terdiri dari Lurah, perangkat kelurahan, hingga lembaga kemasyarakatan (RT/RW) se-Kecamatan Kotamobagu Barat ini menjadi momentum krusial dalam peneguhan kualitas tata kelola pemerintahan lokal.
Tepat pukul 07.30 WITA, saat barisan telah terbentuk di lapangan, Sahaya Mokoginta yang tengah memberikan arahan pembuka langsung menghentikan pembicaraannya. Ia secara tegas menegur salah satu peserta yang kedapatan masih bercakap-cakap.
Seketika, hiruk-pikuk suasana berubah menjadi hening total. Peserta yang ditegur langsung tersadar, dan seluruh barisan kembali fokus mengikuti jalannya apel dengan tertib. Momen ini bukan sekadar teguran biasa, melainkan pesan nyata bahwa disiplin adalah fondasi yang tidak bisa ditawar.
Dalam arahannya, Sahaya menekankan bahwa Kecamatan Kotamobagu Barat memiliki beban tanggung jawab yang lebih besar karena statusnya sebagai pusat ibu kota dan “wajah” dari Kota Kotamobagu.
“Aparatur di wilayah ini dihadapkan pada persoalan yang lebih kompleks. Kita tidak hanya butuh aparatur yang disiplin, tapi juga yang agile—responsif, adaptif, solutif, komunikatif, serta inovatif dalam pelayanan publik,” tegas Sahaya.
Sahaya memberikan analogi mendalam mengenai filosofi sebuah barisan dalam birokrasi. Menurutnya, Pemerintah Daerah adalah satu barisan besar di bawah bendera yang sama.
Barisan Lurus, mencerminkan keselarasan kebijakan, konsistensi aturan, dan koordinasi yang kuat.
Keluar dari Barisan, bukan hanya masalah posisi, tapi mencerminkan lemahnya loyalitas yang dapat menghambat efektivitas organisasi dan merusak kepercayaan masyarakat.
“Disiplin adalah wujud nyata dari loyalitas. Tanpa disiplin, loyalitas hanyalah konsep tanpa implementasi. Jika ada yang keluar dari barisan, ia mengganggu kekuatan seluruh barisan,” tambahnya.
Menutup arahannya, Sahaya memberikan peringatan bagi aparatur yang tidak mampu menjaga komitmen. Keluar dari barisan dianggap sebagai penyimpangan dari tanggung jawab dan kepercayaan publik.
Langkah pembinaan akan selalu menjadi prioritas awal. Namun, Sahaya menegaskan jika tidak ada perubahan, maka demi menjaga keteraturan organisasi, posisi tersebut harus diisi oleh mereka yang lebih siap, disiplin, dan loyal.(BM/*)







