BolmongSulutkita.com— Satu tahun pertama pemerintahan menjadi tolak ukur komitmen dan arah pembangunan sebuah daerah. Di Kabupaten Bolaang Mongondow, kepemimpinan Bupati Yusra Alhabsyi dan Wakil Bupati Dony Lumenta dalam setahun terakhir menunjukkan bahwa berbagai program yang dirancang tidak berhenti pada perencanaan, tetapi diwujudkan melalui langkah konkret.
Dengan luas wilayah sekitar 2.872 kilometer persegi yang mencakup 15 kecamatan, dua kelurahan, dan 200 desa, tantangan pembangunan di daerah ini tergolong kompleks. Namun, dalam kurun satu tahun, sejumlah perubahan mendasar mulai terlihat sebagai pijakan awal pembangunan jangka panjang.
Perbaikan infrastruktur jalan penghubung di sejumlah desa yang selama puluhan tahun belum tersentuh pembangunan akhirnya terealisasi. Akses yang sebelumnya terbatas kini mulai terbuka, memperlancar mobilitas warga dan mendorong aktivitas ekonomi. Kehadiran pemerintah pun kian dirasakan hingga ke pelosok desa.
Di sektor pertanian, pembangunan jalan kebun sepanjang kurang lebih 35 kilometer melalui program padat karya menjadi salah satu langkah strategis. Program ini tidak hanya mempermudah akses petani ke lahan pertanian, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Selain itu, pemerintah daerah berhasil menghadirkan bantuan alat pertanian dari pemerintah provinsi untuk kelompok tani di berbagai wilayah. Bantuan tersebut telah disalurkan guna meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong modernisasi sektor pertanian. Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk keberpihakan langsung kepada kebutuhan petani.
Perhatian terhadap fasilitas umum juga diwujudkan melalui perbaikan lampu penerangan di sepanjang Jalur 2 Lolak. Setelah hampir dua tahun tidak berfungsi, lampu-lampu tersebut kini kembali menyala. Kondisi jalan yang sebelumnya gelap kini lebih terang, sehingga meningkatkan rasa aman dan kenyamanan masyarakat.
Pemasangan dan perbaikan lampu penerangan juga dilakukan di sejumlah persimpangan jalan. Fasilitas olahraga yang sebelumnya minim pencahayaan kini dilengkapi lampu merkuri, sehingga ruang publik kembali hidup dan dapat dimanfaatkan masyarakat pada malam hari dengan lebih aman.
Penataan taman di pusat ibu kota daerah menjadi simbol wajah baru Bolaang Mongondow. Sementara itu, pembangunan gedung perkantoran pemerintah yang sebelumnya masih menempati rumah sewa milik warga menunjukkan komitmen menghadirkan pelayanan publik yang lebih representatif dan profesional.
Kemajuan signifikan juga tercatat di sektor kesehatan. Rumah Sakit Pratama Modomang di wilayah Dumoga yang selama bertahun-tahun belum dapat difungsikan akibat persoalan perizinan dan pembebasan lahan, kini telah menemukan solusi. Dalam satu tahun terakhir, kendala tersebut berhasil diselesaikan dan rumah sakit tersebut direncanakan mulai beroperasi pada 2026. Kehadirannya diharapkan menjadi penguat layanan kesehatan bagi masyarakat Dumoga dan sekitarnya. Selain itu, pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di beberapa desa turut memperluas akses layanan kesehatan, khususnya di wilayah yang sebelumnya jauh dari fasilitas medis.
Di bidang pendidikan, komunikasi intensif dengan pemerintah pusat membuahkan hasil berupa rencana pembangunan Kampus Moderasi Beragama di Bolaang Mongondow yang dijadwalkan mulai dibangun pada 2026. Selain itu, program Sekolah Rakyat yang akan direalisasikan tahun ini diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berisiko putus sekolah, agar tetap memperoleh akses pendidikan yang layak. Program tersebut menjadi bagian dari perlindungan sosial di sektor pendidikan, memastikan tidak ada anak di Bolmong yang tertinggal akibat keterbatasan ekonomi.
Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia juga terlihat dari bertambahnya jumlah putra-putri Bolmong yang melanjutkan studi ke Tiongkok melalui kerja sama dengan PT Conch. Jika pada 2023 tercatat 12 orang, maka pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 21 orang. Kenaikan ini membuka peluang yang lebih luas bagi generasi muda dalam menghadapi persaingan global.
Selain pembangunan fisik, pembenahan pelayanan publik turut menjadi perhatian. Pemerintah daerah melakukan perbaikan sistem pelayanan di berbagai instansi, mempercepat proses administrasi, serta meningkatkan kedisiplinan dan profesionalitas aparatur. Langkah tersebut diambil untuk menghadirkan layanan yang lebih cepat, mudah, dan transparan, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi.
Satu tahun kepemimpinan Yusra Alhabsyi dan Dony Lumenta memperlihatkan pendekatan kerja yang lebih menitikberatkan pada aksi dibanding retorika. Sejumlah program berjalan secara bertahap—mulai dari pembukaan akses jalan, perbaikan penerangan, pengaktifan rumah sakit, hingga perencanaan sekolah dan pengembangan generasi muda.
Capaian ini tentu belum mencakup seluruh kebutuhan pembangunan di Bolaang Mongondow. Masih terdapat wilayah yang menunggu sentuhan program. Namun, komitmen pemerintah daerah ditegaskan tetap konsisten dengan pelaksanaan pembangunan secara bertahap, agar tidak ada satu pun wilayah di Bolaang Mongondow yang tertinggal.(Ian/*)






